Minggu, 03 April 2016

makalah flora dan fauna khas maluku utara




Flora dan fauna Maluku utara



Nama penyusun:
Nama : wiken safitri 2014 133 078
Dosen pengasuh : laili Rosita,m.pd
Mata kuliah : geografi regional indonesia 1

                                             
Program studi pendidikan geografi
fakultas keguruan dan ilmu pendidikan 
universitas pgri Palembang
 tahun
2016-2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga saya berhasil menyelesaikan tugas ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul flora dan fauna maluku utara .Pada makalah ini berisikan tentang flora dan fauna yang ada di maluku utara .Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang flora dan fauna yang ada di maluku utara. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari teman-teman sekalian yang bersifat membangun  saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini,
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Amin.

                                                                        Palembang , 31 maret  2016















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................  
DAFTAR ISI...................................................................................................  
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang...........................................................................................  
1.2  Rumusan masalah……………………………………………………….
1.3  Tujuan penulisan…………………………………………………………
BAB II PEMBAHASAN
2.1flora dan fauna Maluku utara……………….............................................  
A.flora.............................................................................................................  
B.fauna............................................................................................................  
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................  
B. Saran..........................................................................................................  











BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keanekaragaman flora dan fauna di suatu wilayah tidak terlepas dari dukungan kondisi di wilayah itu. Ada tumbuhan yang hanya dapat tumbuh di daerah yang beriklim tropis, dimana banyak curah hujan dan sinar matahari, dan ada yang hanya dapat tumbuh di daerah yang dingin dan lembab. Tumbuhan merupakan makhluk hidup yng menetap, memiliki dinding sel yang terdiri atas selulosa dan sumber bahan mkanan dari gas dan air, melalui bantuan klorofil dalam cahaya. Tumbuhan di permukaan bumi sebaagaai obyek kajian bagi ahli geogrfi tumbuhan.
Proses migrasi pada tumbuhan di pengaruhi factor kemampuanya berevolusi, kemampuanyaa dalam menyesuaiakan dirinya untuk mempertahankan hidupnya, melakukan persebaran untuk tumbuh dan hidup seperti spora yang terbang di tiup angin, dan sifat yang dimiliki kosolitnes mempunyai kemampuan menyebar secara luas.

Dalam suatu wilayah tertentu selalu terjadi populasi satu species dengan species lainya senantiasa terjdi suatu interksi baik secaara langsung maaupun tidak langsung. Dengan demikian terjadilah suatu kehidupan komunitas atau kelompok suatu kehidupan. Jenis-jenis fauna tertentu dipengaruhi keberadaannya oleh keadaan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan tumbuh-tumbuhan dipengaruhi oleh iklim. Keadaan fauna di tiap-tiap daerah atau bioma, tergantung pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan daerah tersebut untuk memberi makan. Iklim berpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap penyebaran fauna.
Dukungan kondisi suatu wilayah terhadap keberadaan flora dan fauna berupa faktor-faktor fisik (abiotik) dan faktor non fisik (biotik).Yang termasuk faktor fisik (abiotik) adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan ketinggian, dan yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.


          2.1        Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
       1.        apa saja flora dan fauna yang ada di Maluku utara?
       2.        Apakah manfaat dari flora dan fauna?
       3.Bagaimanakah deskripssi flora dan fauna?
         3.1        Tujuan Penulisan
Dalam menyusun makalah ini mempunyai beberapa tujuan yaitu :
       1.        Untuk mengetahui apa  Flora dan Fauna
       2.        Untuk mengetahui  flora dan fauna yang ada di maluku














BAB II
PEMBAHASAN
2.1 flora dan fauna maluku utara
a. flora
Flora dan Fauna Khas Provinsi Maluku Utara ditetapkan Cengkih (Syzygium aromaticum, Flora Khas Maluku Utara dan  Burung Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii)  sebagai Fauna Khas Maluku Utara.
Cengkih (Syzygiumaromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga pohon Myrtaceae. Cengkih adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkih ditanam terutama di Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar; selain itu juga dibudidayakan di Zanzibar, India, dan Sri Lanka. Pohon cengkih merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10–20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkih akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5–2 cm. Cengkih dapat digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Bumbu ini digunakan di Eropa dan Asia. Terutama di Indonesia, cengkih digunakan sebagai bahan rokok kretek. Cengkih juga digunakan sebagai bahan dupa di Republik Rakyat Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkih digunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi. Daun cengkih kering yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan efektif untuk mengendalikan penyakit busuk batang Fusarium dengan memberikan 50-100 gram daun cengkih kering per tanaman.

Sejarah cengkih
Pada abad yang keempat, pemimpin Dinasti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang yang mendekatinya untuk sebelumnya menguyah cengkih, agar harumlah napasnya. Cengkih, pala dan merica sangatlah mahal pada zaman Romawi. Cengkih menjadi bahan tukar menukar oleh bangsa Arab pada abad pertengahan. Pada akhir abad ke-15, orang Portugis mengambil alih jalan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkih dengan perjanjian Tordesillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian dengan sultan Ternate. Orang Portugis membawa banyak cengkih yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkih sama dengan harga 7 gram emas. Perdagangan cengkih akhirnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17. Dengan susah payah orang Prancis berhasil membudayakan pohon Cengkih di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkih dibudayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar. Pada abad ke-17 dan ke-18 di Inggris harga cengkih sama dengan harga emas karena tingginya biaya impor. Sebab cengkih disana dijadikan salah satu bahan makanan yang sangat berkhasiat bagi warga dan sekitarnya yang mengonsumsi tanaman cengkih tersebut. Sampai sekarang cengkih menjadi salah satu bahan yang diekspor ke luar negeri. Pohon cengkih yang dianggap tertua yang masih hidup terdapat di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah, sekitar 6 km dari pusat kota Ternate. Poho yang disebut sebagai Cengkih Afo ini berumur 416 tahun, tinggi 36,60 m, berdiameter 198 m, dan keliling batang 4,26 m. Setiap tahunnya ia mampu menghasilkan sekitar 400 kg bunga cengkih.

Kandungan bahan aktif dalam bunga dan buah cengkih
Minyak esensial dari cengkih mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Minyak cengkih sering digunakan untuk menghilangkan bau napas dan untuk menghilangkan sakit gigi. Zat yang terkandung dalam cengkih yang bernama eugenol, digunakan dokter gigi untuk menenangkan saraf gigi. Minyak cengkih juga digunakan dalam campuran tradisional chōjiyu (1% minyak cengkih dalam minyak mineral; "chōji" berarti cengkih; "yu" berarti minyak) dan digunakan oleh orang Jepang untuk merawat permukaan pedang mereka

B.FAUNA
1.Kasturi Ternate atau Lorius garrulus menjadi burung paruh bengkok, bahkan satwa, yang paling banyak diburu dan diperdagangkan. Jumlah Kasturi Ternate yang diperdagangkan bahkan mengalahkan Kakatua Putih (sesama burung endemik Maluku Utara). Kasturi Ternate yang berbulu merah, hijau, dan kuning ini ditangkap dan diperdagangkan hingga sebanyak 16.000 ekor per tahun.
Kasturi Ternate merupakan burung dari famili Psittacidae (Parrots). Kasturi Ternate merupakan salah satu burung endemik Indonesia. Nama latin burung ini adalah Lorius garrulus (Linnaeus, 1758). Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Chattering Lory.
Burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus) dewasa berukuran sekitar 30 cm. Bulu pada tubuh, leher, dan kepalanya didominasi warna merah. Kedua sayap memiliki bulu berwarna hijau dengan kombinasi warna kuning pada lipatannya. Paha, sayap, dan ujung ekor berwarna hijau. Tepi sayap dan penutup sayap bawah berwarna kuning. Paruh memiliki warna jingga, dengan pangkal paruh berwarna lebih gelap. Lingkar mata abu-abu, sedangkan mata berwarna merah atau jingga.
Suara kicauan burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus) keras, sengau, atau ringkikan yang gemetar. Umumnya hidup berpasangan, dan kadang berkumpul dalam kelompok besar (mencapai 10 ekor) di pohon pakan. Kelompok ini umumnya berisik dan mencolok saat terbang tapi berkurang pada saat makan. Burung endemik Maluku Utara yang banyak diperjual-belikan ini pun mudah didekati
Burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus) merupakan burung endemik Indonesia dengan daerah persebaran terbatas di beberapa pulau di Maluku Utara. Terdiri atas tiga subspesies (ras), yaitu :
  • Lorius garrulus flavopalliatus Salvadori, mendiami pulau Morotai dan Rau.
  • Lorius garrulus garrulous mendiami pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya.
  • Lorius garrulus morotaianus  mendiami pulau Bacan, Obi, Kasiruta dan Mandiole.
Burung yang disebut juga sebagai Chattering Lory ini memiliki habitat di hutan hujan primer dan sekunder, hutan tebang pilih, hingga tepi hutan. Umumnya ditemui mendiami  daerah hingga berketinggian 1300 meter di atas permukaan laut.
Populasi burung Kasturi Ternate diperkirakan antara 46.360 – 295.540 ekor (berdasar data birdlife.org, 1993). Ancaman utama terhadap populasi burung paruh bengkok ini adalah perburuan liar untuk diperdagangkan. Menurut data Yayasan Kehati, setiap tahunnya sebanyak 16.000 ekor burung Kasturi Ternate ditangkap dan diperjual-belikan. Sebagian besar burung ini diselundupkan ke Filipina. Ancaman lainnya terhadap kelestarian burung endemik Maluku Utara ini adalah penebangan liar dan pembukaan hutan untuk keperluan industri.
Daerah sebaran Kasturi Ternate (Lorius garrulus) sebaran
Akibat maraknya perburuan, populasi burung Kasturi Ternate mengalami penurunan. Oleh karena itu BirdLife International dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan burung ini dalam kategori Vulnerable (VU; Rentan). Sedangkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) mendaftarnya dalam Appendix II. Appendix II berarti dapat diperdagangkan secara Internasional tetapi melalui pengaturan yang ketat termasuk dalam hal penentuan kuota dan waktu tangkap.
Anehnya meskipun telah terdaftar sebagai spesies Vulnerable dalam IUCN Red List dan Appendix II CITES, burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus) tidak termasuk sebagai burung yang yang dilindungi di Indonesia. Padahal jika perburuan dan perdagangan burung ini tidak dikendalikan, bisa jadi Sang Burung Paruh Bengkok Endemik Maluku Utara ini akan punah di tanah aslinya. Dan kita hanya akan bisa menjumpai Kasturi Ternate (Lorius garrulus) di negeri orang.
2.Burung Elang-alap Halmahera (Accipiter henicogrammus) adalah burung endemik Maluku Utara, Indonesia. Elang-alap Halmahera pun menjadi salah satu jenis burung pemangsa dari famili Accipitridae dan satu diantara belasan Elang-alap (Accipiter sp.) yang hidup di Indonesia.
Nama latin burung endemik ini adalah Accipiter henicogrammus  Dalam bahasa Inggris, burung pemangsa ini dikenal sebagai Moluccan Goshawk. Selain itu kerap juga dinamai dengan Gray’s Goshawk, Grey’s Goshawk, Moluccan Barred Goshawk, atau White-headed Goshawk. Di Indonesia, selain dikenal sebagai Elang-alap Halmahera terkadang juga disebut Alap-alap kepala putih, walaupun sebenarnya berbeda dengan Alap-alap.
Diskripsi Fisik dan Perilaku Elang-alap Halmahera
Burung Elang-alap Halmahera (Accipiter henicogrammus) berukuran sedang dengan panjang tubuh berkisar antara 38-48 cm. Sekilas bulu mirip dengan Elang-alap Kelabu (Accipiter novaehollandiae). Bulu tubuhnya berwarna gelap, dengan kepala berwarna abu-abu kehitaman. Bulu di bagian dada berwarna kemerahan dengan garis-garis putih halus. Iris mata berwarna kuning, paruh hitam, dan kaki abu-abu. Yang membedakan dengan Elang-alap Kelabu adalah bentuk tubuh yang lebih membulat serta ukuran ekor yang lebih panjang.Merupakan burung penetap yang mendiami bukit, hutan pegunungan, da daerah tepi hutan pada ketinggian hingga 1300 meter dpl. Lebih sering terlihat sendirian, meskipun terkadang terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil, terutama saat sedang musim kawin. Makanan utama burung pemangsa ini adalah reptil, mammalia kecil, hingga jenis burung kecil lainnya. Mengintai mangsanya dari dahan yang tersembunyi untuk kemudian menyergap dengan tiba-tiba dan cepat.
Sebagai hewan endemik, sebaran burung Elang-alap Halmahera terbatas di beberapa pulau di Maluku Utara. Pulau-pulau tersebut meliputi Pulau Morotai, Halmahera, Bacan, dan Ternate.
Jumlah populasi diperkirakan antara 670-6.700 ekor dewasa. Populasi ini diduga mengalami penurunan karena terjadinya perusakan habitat akibat deforestasi,  penebangan kayu, serta pembukaan lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, dan pemukiman.
.3.Serak Taliabu merupakan burung hantu endemik kepulauan Sula, Maluku Utara. Burung hantu dengan nama latin Tyto nigrobrunnea ini hanya ditemukan hidup di pulau Taliabu, Kabupaten Sula, Maluku Utara. Serak Taliabu pun menjadi salah satu burung langka di Indonesia dengan status konservasi Endangered (Terancam Punah).
Nama latin hewan dari famili Tytonidae ini adalah Tyto nigrobrunnea Neumann, 1939. Dalam bahasa Inggris burung endemik Taliabu, Maluku Utara ini mempunyai beberapa sebutan seperti Taliabu Masked Owl, Taliabu Masked-owl, Sula Barn-owl, atau Taliabu Owl.
Tubuh burung Serak Taliabu berukuran sedang, panjang tubuhnya berkisar 31-32 cm. Panjang rentang sayap sekitar 28 cm dan ekor sepanjang 12 cm. Bagian muka berwarna coklat kemerah-mudaan. Bulu di sekitar mata dan tubuh bagian atas berwarna gelap. Tubuh bagian bawah berblu warna coklat keemasan dengan bintik-bintik berwarna hitam. Iris mata hitam. Suara burung ini, layaknya anggota genus Tyto lainnya, menyerupai suara desisan. Bulu pada kaki coklat kemerahan sedangkan kulit kaki abu-abu dan cakar hitam.
Daerah Sebaran Serak Taliabu
Populasi burung Serak Taliabu tidak diketahui dengan pasti, meskipun diyakini termasuk burung langka dan terancam punah. BirdLife memperkirakan populasi burung dewasa berkisar antara 250 hingga 1000 ekor. Sedang total keseluruhan populasi di bawah 1.500 ekor. Populasi ini diperkirakan mengalami penurunan, meskipun tidak diketahui pasti tingkat penurunannya. Penurunan populasi burung hantu endemik Maluku Utara ini diakibatkan oleh deforestasi yang terjadi.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa persebaran sumber-sumber alam yang  menyangkut air, dunia tumbuh-tumbuhan serta kesuburan tanah  dan sinar matahari dan lain-lain tidaklah merata di permukaan  bumi ini. sehingga, persebaran flora dan fauna pun juga tidak  menyebar secara merata di permukaan bumi ini.
3.2 Saran
Dengan adanya  karya tulis ini maka penulis  mengharapkan agar masyarakat dapat menjaga kelestarian flora dan fauna di sekitar kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar