Flora dan fauna
Maluku utara
Nama penyusun:
Nama : wiken
safitri 2014 133 078
Dosen pengasuh :
laili Rosita,m.pd
Mata kuliah :
geografi regional indonesia
1
Program
studi pendidikan geografi
fakultas keguruan
dan ilmu pendidikan
universitas pgri
Palembang
tahun
2016-2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga saya
berhasil menyelesaikan tugas ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul
flora dan fauna maluku utara .Pada makalah ini berisikan tentang flora dan
fauna yang ada di maluku utara .Diharapkan makalah ini dapat memberikan
informasi kepada kita semua tentang flora dan fauna yang ada di maluku utara.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari teman-teman sekalian yang bersifat membangun saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini,
Akhir kata, kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita.
Amin.
Palembang , 31
maret 2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang...........................................................................................
1.2 Rumusan
masalah……………………………………………………….
1.3 Tujuan
penulisan…………………………………………………………
BAB II PEMBAHASAN
2.1flora
dan fauna Maluku utara……………….............................................
A.flora.............................................................................................................
B.fauna............................................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................
B. Saran..........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keanekaragaman
flora dan fauna di suatu wilayah tidak terlepas dari dukungan kondisi di
wilayah itu. Ada tumbuhan yang hanya dapat tumbuh di daerah yang beriklim
tropis, dimana banyak curah hujan dan sinar matahari, dan ada yang hanya dapat
tumbuh di daerah yang dingin dan lembab. Tumbuhan merupakan makhluk hidup yng
menetap, memiliki dinding sel yang terdiri atas selulosa dan sumber bahan
mkanan dari gas dan air, melalui bantuan klorofil dalam cahaya. Tumbuhan di
permukaan bumi sebaagaai obyek kajian bagi ahli geogrfi tumbuhan.
Proses migrasi
pada tumbuhan di pengaruhi factor kemampuanya berevolusi, kemampuanyaa dalam
menyesuaiakan dirinya untuk mempertahankan hidupnya, melakukan persebaran untuk
tumbuh dan hidup seperti spora yang terbang di tiup angin, dan sifat yang
dimiliki kosolitnes mempunyai kemampuan menyebar secara luas.
Dalam suatu
wilayah tertentu selalu terjadi populasi satu species dengan species lainya
senantiasa terjdi suatu interksi baik secaara langsung maaupun tidak langsung.
Dengan demikian terjadilah suatu kehidupan komunitas atau kelompok suatu
kehidupan. Jenis-jenis fauna tertentu dipengaruhi keberadaannya oleh keadaan
tumbuh-tumbuhan. Sedangkan tumbuh-tumbuhan dipengaruhi oleh iklim. Keadaan
fauna di tiap-tiap daerah atau bioma, tergantung pada kemungkinan-kemungkinan
yang dapat diberikan daerah tersebut untuk memberi makan. Iklim berpengaruh
secara langsung atau tidak langsung terhadap penyebaran fauna.
Dukungan kondisi
suatu wilayah terhadap keberadaan flora dan fauna berupa faktor-faktor fisik
(abiotik) dan faktor non fisik (biotik).Yang termasuk faktor fisik (abiotik)
adalah iklim (suhu, kelembaban udara, angin), air, tanah, dan ketinggian, dan
yang termasuk faktor non fisik (biotik) adalah manusia, hewan, dan
tumbuh-tumbuhan.
2.1
Rumusan
Masalah
Dalam
makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.
apa
saja flora dan fauna yang ada di Maluku utara?
2.
Apakah
manfaat dari flora dan fauna?
3.Bagaimanakah
deskripssi flora dan fauna?
3.1
Tujuan
Penulisan
Dalam
menyusun makalah ini mempunyai beberapa tujuan yaitu :
1.
Untuk
mengetahui apa Flora dan Fauna
2.
Untuk
mengetahui flora dan fauna yang ada di
maluku
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 flora dan fauna maluku utara
a.
flora
Flora dan Fauna Khas Provinsi Maluku Utara ditetapkan Cengkih (Syzygium
aromaticum, Flora Khas Maluku Utara dan Burung Bidadari Halmahera (Semioptera
wallacii) sebagai Fauna Khas Maluku
Utara.
Cengkih (Syzygiumaromaticum, syn. Eugenia
aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves,
adalah tangkai bunga kering beraroma dari keluarga
pohon Myrtaceae. Cengkih adalah tanaman asli Indonesia, banyak
digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa,
dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkih ditanam
terutama di Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar; selain itu juga
dibudidayakan di Zanzibar, India,
dan Sri Lanka. Pohon cengkih merupakan tanaman tahunan yang
dapat tumbuh dengan tinggi 10–20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong
yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau,
dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkih akan dipanen jika sudah
mencapai panjang 1,5–2 cm. Cengkih dapat digunakan sebagai bumbu, baik
dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Bumbu ini digunakan
di Eropa dan Asia. Terutama di Indonesia, cengkih digunakan
sebagai bahan rokok kretek. Cengkih juga digunakan sebagai
bahan dupa di Republik Rakyat
Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkih digunakan
di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi. Daun cengkih
kering yang ditumbuk halus dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan efektif
untuk mengendalikan penyakit busuk batang Fusarium dengan memberikan
50-100 gram daun cengkih kering per tanaman.
Sejarah cengkih
Pada abad yang keempat, pemimpin Dinasti
Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang yang mendekatinya untuk
sebelumnya menguyah cengkih, agar harumlah napasnya. Cengkih, pala dan merica sangatlah
mahal pada zaman Romawi. Cengkih menjadi bahan tukar menukar oleh
bangsa Arab pada abad pertengahan. Pada akhir abad ke-15,
orang Portugis mengambil alih jalan tukar menukar di Laut India.
Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkih dengan perjanjian Tordesillas dengan Spanyol,
selain itu juga dengan perjanjian dengan sultan Ternate.
Orang Portugis membawa banyak cengkih yang mereka peroleh dari
kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkih
sama dengan harga 7 gram emas. Perdagangan cengkih akhirnya
didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17. Dengan susah payah
orang Prancis berhasil membudayakan pohon Cengkih di Mauritius pada
tahun 1770. Akhirnya cengkih dibudayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar. Pada abad ke-17 dan
ke-18 di Inggris harga cengkih sama dengan
harga emas karena tingginya biaya impor. Sebab cengkih disana
dijadikan salah satu bahan makanan yang sangat berkhasiat bagi warga dan
sekitarnya yang mengonsumsi tanaman cengkih tersebut. Sampai sekarang cengkih
menjadi salah satu bahan yang diekspor ke luar negeri. Pohon cengkih yang
dianggap tertua yang masih hidup terdapat di Kelurahan Tongole, Kecamatan
Ternate Tengah, sekitar 6 km dari pusat kota Ternate. Poho yang disebut
sebagai Cengkih Afo ini berumur 416 tahun, tinggi 36,60 m, berdiameter 198 m,
dan keliling batang 4,26 m. Setiap tahunnya ia mampu menghasilkan sekitar
400 kg bunga cengkih.
Kandungan bahan aktif dalam bunga dan buah
cengkih
Minyak esensial dari cengkih mempunyai
fungsi anestetik dan antimikrobial.
Minyak cengkih sering digunakan untuk menghilangkan bau napas dan untuk
menghilangkan sakit gigi. Zat yang terkandung dalam cengkih yang
bernama eugenol, digunakan dokter gigi untuk
menenangkan saraf gigi. Minyak cengkih juga digunakan dalam campuran
tradisional chōjiyu (1% minyak cengkih dalam minyak mineral; "chōji" berarti cengkih;
"yu" berarti minyak) dan digunakan oleh
orang Jepang untuk merawat permukaan pedang mereka
B.FAUNA
1.Kasturi Ternate atau Lorius garrulus
menjadi burung paruh bengkok, bahkan satwa, yang paling banyak diburu dan
diperdagangkan. Jumlah Kasturi Ternate yang diperdagangkan bahkan mengalahkan Kakatua Putih
(sesama burung endemik Maluku Utara). Kasturi Ternate yang berbulu merah,
hijau, dan kuning ini ditangkap dan diperdagangkan hingga sebanyak 16.000 ekor
per tahun.
Kasturi Ternate merupakan burung dari famili
Psittacidae (Parrots). Kasturi Ternate merupakan salah satu burung
endemik Indonesia. Nama latin
burung
ini adalah Lorius garrulus (Linnaeus, 1758). Dalam bahasa Inggris
dikenal sebagai Chattering Lory.
Burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus)
dewasa berukuran sekitar 30 cm. Bulu pada tubuh, leher, dan kepalanya
didominasi warna merah. Kedua sayap memiliki bulu berwarna hijau dengan kombinasi
warna kuning pada lipatannya. Paha, sayap, dan ujung ekor berwarna hijau. Tepi
sayap dan penutup sayap bawah berwarna kuning. Paruh memiliki warna jingga,
dengan pangkal paruh berwarna lebih gelap. Lingkar mata abu-abu, sedangkan mata
berwarna merah atau jingga.
Suara kicauan
burung
Kasturi Ternate (Lorius garrulus) keras, sengau, atau ringkikan yang
gemetar. Umumnya hidup berpasangan, dan kadang berkumpul dalam kelompok besar
(mencapai 10 ekor) di pohon pakan. Kelompok ini umumnya berisik dan mencolok
saat terbang tapi berkurang pada saat makan. Burung endemik Maluku Utara yang
banyak diperjual-belikan ini pun mudah didekati
Burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus)
merupakan burung
endemik Indonesia dengan daerah persebaran terbatas di beberapa
pulau di Maluku Utara. Terdiri atas tiga subspesies (ras), yaitu :
- Lorius garrulus flavopalliatus Salvadori, mendiami pulau Morotai dan Rau.
- Lorius garrulus garrulous mendiami pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya.
- Lorius garrulus morotaianus mendiami pulau Bacan, Obi, Kasiruta dan Mandiole.
Burung yang disebut juga sebagai Chattering
Lory ini memiliki habitat di hutan hujan primer dan sekunder, hutan tebang
pilih, hingga tepi hutan. Umumnya ditemui mendiami daerah hingga
berketinggian 1300 meter di atas permukaan laut.
Populasi burung Kasturi Ternate diperkirakan
antara 46.360 – 295.540 ekor (berdasar data birdlife.org, 1993). Ancaman utama
terhadap populasi burung paruh bengkok ini adalah perburuan liar untuk
diperdagangkan. Menurut data Yayasan Kehati, setiap tahunnya sebanyak 16.000
ekor burung Kasturi Ternate ditangkap dan diperjual-belikan. Sebagian besar
burung ini diselundupkan ke Filipina. Ancaman lainnya terhadap kelestarian
burung endemik Maluku Utara ini adalah penebangan liar dan pembukaan hutan untuk
keperluan industri.
Daerah
sebaran Kasturi Ternate (Lorius garrulus) sebaran
Akibat maraknya perburuan, populasi burung
Kasturi Ternate mengalami penurunan. Oleh karena itu BirdLife International
dan International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan burung
ini dalam kategori Vulnerable (VU; Rentan). Sedangkan Convention on
International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES)
mendaftarnya dalam Appendix II. Appendix II berarti dapat diperdagangkan secara
Internasional tetapi melalui pengaturan yang ketat termasuk dalam hal penentuan
kuota dan waktu tangkap.
Anehnya meskipun telah terdaftar sebagai
spesies Vulnerable dalam IUCN Red List dan Appendix II CITES, burung Kasturi
Ternate (Lorius garrulus) tidak termasuk sebagai burung yang
yang dilindungi di Indonesia. Padahal jika perburuan dan
perdagangan burung ini tidak dikendalikan, bisa jadi Sang Burung Paruh Bengkok
Endemik Maluku Utara ini akan punah di tanah aslinya. Dan kita hanya akan bisa
menjumpai Kasturi Ternate (Lorius garrulus) di negeri orang.
2.Burung Elang-alap
Halmahera
(Accipiter henicogrammus) adalah burung
endemik Maluku Utara, Indonesia. Elang-alap Halmahera pun menjadi salah satu
jenis burung pemangsa dari famili Accipitridae dan satu diantara belasan
Elang-alap (Accipiter sp.) yang hidup di Indonesia.
Nama latin burung endemik ini adalah Accipiter
henicogrammus Dalam bahasa Inggris, burung
pemangsa ini dikenal sebagai Moluccan Goshawk. Selain itu kerap juga dinamai
dengan Gray’s Goshawk, Grey’s Goshawk, Moluccan Barred Goshawk, atau
White-headed Goshawk. Di Indonesia, selain dikenal sebagai Elang-alap Halmahera
terkadang juga disebut Alap-alap kepala putih, walaupun sebenarnya berbeda
dengan Alap-alap.
Diskripsi Fisik dan Perilaku
Elang-alap Halmahera
Burung
Elang-alap
Halmahera
(Accipiter henicogrammus) berukuran sedang dengan panjang tubuh berkisar
antara 38-48 cm. Sekilas bulu mirip dengan Elang-alap Kelabu (Accipiter
novaehollandiae). Bulu tubuhnya berwarna gelap, dengan kepala berwarna
abu-abu kehitaman. Bulu di bagian dada berwarna kemerahan dengan garis-garis
putih halus. Iris mata berwarna kuning, paruh hitam, dan kaki abu-abu. Yang
membedakan dengan Elang-alap Kelabu adalah bentuk tubuh yang lebih membulat
serta ukuran ekor yang lebih panjang.Merupakan burung penetap yang
mendiami bukit, hutan pegunungan, da daerah tepi hutan pada ketinggian
hingga 1300 meter dpl. Lebih sering terlihat sendirian, meskipun terkadang
terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil, terutama saat sedang musim
kawin. Makanan utama burung pemangsa ini adalah reptil, mammalia kecil, hingga
jenis burung kecil lainnya. Mengintai mangsanya dari dahan yang tersembunyi
untuk kemudian menyergap dengan tiba-tiba dan cepat.
Sebagai hewan endemik, sebaran burung Elang-alap Halmahera terbatas
di beberapa pulau di Maluku Utara. Pulau-pulau tersebut meliputi Pulau Morotai,
Halmahera, Bacan, dan Ternate.
Jumlah populasi diperkirakan antara 670-6.700
ekor dewasa. Populasi ini diduga mengalami penurunan karena terjadinya
perusakan habitat akibat deforestasi,
penebangan kayu, serta pembukaan lahan pertanian, perkebunan, pertambangan, dan
pemukiman.
.3.Serak
Taliabu merupakan burung hantu
endemik kepulauan Sula, Maluku Utara. Burung hantu dengan nama latin Tyto
nigrobrunnea ini hanya ditemukan hidup di pulau Taliabu, Kabupaten Sula,
Maluku Utara. Serak Taliabu pun menjadi salah satu burung langka di Indonesia
dengan status konservasi Endangered (Terancam Punah).
Nama latin
hewan
dari famili Tytonidae ini adalah Tyto nigrobrunnea Neumann, 1939. Dalam
bahasa Inggris burung endemik Taliabu, Maluku Utara ini mempunyai beberapa
sebutan seperti Taliabu Masked Owl, Taliabu Masked-owl, Sula Barn-owl, atau
Taliabu Owl.
Tubuh burung Serak Taliabu berukuran sedang, panjang tubuhnya berkisar 31-32 cm.
Panjang rentang sayap sekitar 28 cm dan ekor sepanjang 12 cm. Bagian muka
berwarna coklat kemerah-mudaan. Bulu di sekitar mata dan tubuh bagian atas
berwarna gelap. Tubuh bagian bawah berblu warna coklat keemasan dengan
bintik-bintik berwarna hitam. Iris mata hitam. Suara burung ini, layaknya anggota genus Tyto lainnya,
menyerupai suara desisan. Bulu pada kaki coklat kemerahan sedangkan kulit kaki
abu-abu dan cakar hitam.
Daerah
Sebaran Serak Taliabu
Populasi
burung Serak Taliabu tidak diketahui dengan pasti, meskipun diyakini termasuk burung
langka dan terancam punah. BirdLife memperkirakan
populasi burung dewasa berkisar antara 250 hingga 1000 ekor. Sedang total
keseluruhan populasi di bawah 1.500 ekor. Populasi ini diperkirakan mengalami
penurunan, meskipun tidak diketahui pasti tingkat penurunannya. Penurunan
populasi burung hantu endemik Maluku Utara ini diakibatkan oleh deforestasi yang terjadi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka penulis
dapat menarik kesimpulan bahwa persebaran sumber-sumber alam yang menyangkut air, dunia tumbuh-tumbuhan serta
kesuburan tanah dan
sinar matahari dan lain-lain tidaklah merata di permukaan bumi ini. sehingga, persebaran flora dan fauna
pun juga tidak menyebar
secara merata di permukaan bumi ini.
3.2 Saran
Dengan adanya karya tulis ini
maka penulis mengharapkan agar masyarakat dapat
menjaga kelestarian flora dan fauna di sekitar kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar